Minggu, 15 April 2018

Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media

Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media
    A. Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.

Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses penyeleksian, pengorganisasian, serta pengintegrasian elemen-elemen informasi
tersebut disajikan oleh Gambar 1.

Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yangberbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi. Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitifmenyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan .
Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.

Menurut Robert S. Siegler ada tiga karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :
   1.  Proses Berpikir (Thinking)
Menurut pendapat Siegler (2002), berpikir (thinking) adalah pemrosesan informasi. Dalam hal ini Siegler memberikan perspektif luas tentang apa itu penyandian (encoding), merepre-sentasikan, dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka sedang melakukan proses berpikir. Siegler percaya bahwa pikiran adalah sesuatu yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas, dan tujuan. Tetapi, ada batas kemampuan berpikir manusia ini. Individu hanya dapat memerhatikan sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses informasi juga terbatas.
    2.  Mekanisme Pengubah (Change Mechanism)
Siegler (2002) berpendapat  bahwa dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dan perkembangan. Dia percaya bahwa ada empat mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif anak: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan generalisasi.
a.        Encoding (penyandian)
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori . Seperti halnya teori Gagne yang menyatakan informasi dipilih secara selektif, maka dalam encoding menyandikan informasi yang relevan dengan mengabaikan informasi yang tidak relevan adalah aspek utama dalam problem solving. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk melatih encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis.

Ada enam konsep yang dikenal dalam encoding, yaitu :
1). Atensi
Atensi adalah mengonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam memerhatikan adalah seleksi. Atensi bersifat selektif karena sumber daya otak terbatas (Mangels, Piction, & Craik, 2001).
2).  Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) adalah repitisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada di dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid perlu menyandikan dan mengingat daftar item untuk periode waktu yang singkat.
3). Pemrosesan mendalam
Setelah diketahui bahwa pengulangan  (rehearsal) bukan cara yang efisien untuk menye-diakan informasi untuk memori jangka panjang (Fergus Craik dan Robert Lockhart 1972) menyatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level.
4)  Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan memori dalam penyandian. Jadi saat anda menyajikan konsep demokrasi kepada murid, mereka kemungkinan mengingatnya dengan lebih baik jika mereka diberi contoh lebih bagus dari demokrasi. Mencari contoh adalah cara yang bagus utuk mengelaborasi informasi. Misalnya, referensi diri (self-reference) adalah cara yang efektif untuk mngelaborasi informasi.
5). Mengkonstruksi citra (imaji)
Ketika kita mengkonstruksi citra dari sesuatu, kita sedang mengelaborasi informasi. Allan Paivio (1971, 1986) percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara: sebagai kode verbal atau sebagi kode citra/imaji. Paivio mengatakan bahwa semakin detail dan unik dari suatu kode citra, maka semakin baik memori anda dalam mengigat informasi itu. Para peneliti telah menemukan bahwa mengajak anak untuk menggunakan imaji guna mengingat informasi verbal adalah cara yang baik bagi anak yang lebih tua ketimbang anak yang lebih muda (Schneider & pressley, 1997).
6). Penataan
Apabila murid menata (mengorganisasikan) informasi ketika mereka menyediakanya, maka memori mereka akan banyak terbantu. Semakin tertata imformasi yang disampaikan, semakin mudah untuk mengingatnya. Ini terutama berlaku jika menata imformasi secara hirarkis atau menjelaskannya. Chunking (“pengemasan”) adalah strategi penataan memori yang baik, yakni dapat mengelompokan atau “mengepak” informasi menjadi unit-unit “higherorder” yang dapat diingat sebagai satu tunggal. Chunking dilakukan dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola dan lebih bermakna.
b.        Otomatisasi
Otomatisasi adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha. Peristiwa ini terjadi karena pertambahan usia dan pengalaman  individu sehingga otomatis dalam memproses informasi, yaitu cepat dalam mendeteksi kaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa yang baru dengan peristiwa yang sudah tersimpan pada memori dan akhirnya akan menemukan ide atau pengetahuan baru dari setiap kejadian.
c.         Konstruksi Strategi
Konstruksi strategi adalah penemuan prosedur baru untuk memproses informasi. Dalam hal ini Siegler menyatakan bahwa anak perlu menyandikan informasi kunci untuk suatu problem dan mengkoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relevan untuk memecahkan masalah. 
d.        Generalisasi
Untuk melengkapi mekanisme pengubah, maka manfaat dari langkah ketiga yaitu konstruksi strategi akan terlihat pada proses generalisasi, yaitu kemampuan anak dalam mengaplikasikan konstruksi strategi pada permasalahan lain. Pengaplikasian itu melalui proses transfer, yaitu suatu proses pada saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang baru.
   3.  Modifikasi Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan informasi secara mendalam tertuang dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau kognisi atau mengetahui tentang mengetahui, yang  di dalamnya terdapat dua hal yaitu pengetahuan kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan usaha monitoring dan refleksi pada pemikiran seseorang pada saat sekarang, sedangkan aktivitas kognitif terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan suatu tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri Deanna Kuhn mengatakan metakognisi harus lebih difokuskan pada usaha untuk membantu anak menjadi pemikir yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah. Baginya ketrampilan kognitif   terbagi dua, yaitu mengutamakan kemampuan murid untuk mengenali dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui pengetahuannya sendiri. 
Michael Pressly  dan rekan - rekannya seperti  yang  telah dikutip Santrock, mereka telah mengembangkan model metakognitf yang disebut model pemrosesan informasi yang baik. Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari sejumlah faktor yang saling berinteraksi.

Komponen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.   Sensory receptor
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap berada dalam  sistem, informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.   Working memory
Pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa:
1) Ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal.
2) Informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
3.   Long term memory
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan.
             
     B. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Gagne membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c.  Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d.  Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e.  Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f.   Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g.  Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h.  Mengevaluasi hasil belajar
i.   Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan  pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut:
a. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan dikenal sebagai informasi.
b. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
c.  Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.


C. Manfaat teori pemrosesan informasi
1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2. Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.  Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.  Prinsip perbedaan individual terlayani.

D. Hambatan teori pemrosesan informasi
1.  Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.  Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.  Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan   dalam ingatan
4.  Kemampuan otak tiap individu tidak sama.

E. Penyebab Lupa Yang Terjadi Pada Proses Teori Interferensi Dan Teori Aus

Informasi dalam memori jangka pendek akan hilang dengan cepat kecuali dijaga dengan pemanggilan kembali informasi tersebut. Peterson dan Peterson (1959) dari Universitas Indiana membuktikan tingkat kecepatan lupa dari STM. Mereke mengetes kemampuan mahasiswa dalam mengingat tiga konsonan dalam jangka angka, mulai dari sebuah angka yang jatuh setelah konsonan. Teori-teori yang menyebabkan lupa, yaitu:

1.   Teori Interferensi (Interference theory)menyatakan bahwa mengingat hal-hal lain atau melakukan tugas lain dapat mengganggu proses mengingat dan menyebabkan lupa.

2.   Teori Aus (decay theory) menyatakan bahwa lupa akan tetap terjadi meskipun subjek tidak diminta untuk melakukan hal-hal lain selama jangka waktu mengingat jika subjek tidak melatih informasi tersebut.Teori aus memprediksi bahwa performa subjek akan lebih baik pada penyajian dengan kecepatan tinggi karena lebih sedikit waktu bagi informasi untuk aus dari memori.

Penemuan Waugh dan Norman men-dukung pendapat bahwa interferensi penyebab utama lupa, bukan factor aus. Penemuan bahwa interferensi merupakan penyebab utama dari proses melupakan kabar baik. Jika informasi secara spontan aus dari memori, maka kita akan mampu mencegah hilangnya informasi tersebut. Jika informasi hilang dikarenakan oleh inter-ferensi, kita dapat meningkatkan ingatan dengan menstrukturisasi pembelajaran agar dapat meminimalisasi interferensi. Selain itu para psikolog sudah membedakan antara dua jenis interferensi, yaitu:

a. interferensi retroaktif (retroactive inter-ference) disebabkan oleh informasi yang terjadi setelah sebuah kejadian. Penelitian Waugh dan Norman (1965) mendemons-trasikan pengaruh interferensi retroatif, yaitu jumlah angka yang mengikuti angka pemeriksaan mempengaruhi sejauh mana angka tersebut dapat diingat dengan baik.

b.   interferensi proaktif (proactive inter-ference)disebabkan oleh kejadian-kejadian yang terjadi sebelum peristiwa di mana seseorang berusaha untuk mengingat kembali. Keppel dan Under-wood (1962) sebelumnya telah mendemonstrasikan pengaruh interferensi proaktif dalam tugas STM dari Peterson dan Peterson.

Berkurangnya interferensi disebut sebagai lepas dari interferensi proaktif (from proactive interference) (D.D. Wickens, Born, &Allen, 1963). Penelitian yang dilakukan oleh Wickens dan koleganya merupakan yang pertama dari banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mengingat kembali item berikutnya dapat ditingkatkan dengan membuatnya berbeda dengan item sebelumya. Lepas dari interferensi proaktif juga terjadi ketika orang diminta untuk mengingat kejadian yang lebih kompleks (Gunter, Clifford, & Berry, 1980). Salah satu cara terbaik untuk mengingat materi sepanjang hidup kita adalah dengan meluangkan waktu untuk mempelajarinya (Bahrick&Hall, 1991).

Engle dan Oransky (1999) menyatakan perbedaan individu dalam mengukur kapasitas memori kerja mencerminkan perbedaan dalam perhatian terkontrol dan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut akan dicerminkan hanya dalam situasi yang mendorong maupun menuntun perhatian terkontrol. Meskipun sulit bagi kita untuk membayangkan perjuangan seseorang yang mengalami kerusakan memori, kita semua iri pada seseorang yang memiliki memori eksternal yang sangat bagus dan berharap kita dapat meningkatkan memori kita sendiri. Bagi siswa, harapan ini terutama ditujukan saat mereka menghadapi ujian. Jika saja kita dapat mengingat segala sesuatu yang telah dipelajari, kita dapat melakukannya dengan jauh lebih baik. Kebutuhan untuk mengingat materi setelah
ujian kelihatannya kurang mendesak, namun bahkan dalam kasus ini, memori yang bagus tetap dapat menguntungkan.

Permasalahan:
1. Bagaimana suatu informasi dapat menjadi ingatan jangka panjang? Lalu apa yang harus dilakukan  agar setiap informasi yang diterima dapat menjadi ingatan jangka panjang?
2. Apakah faktor stimulus berpengearuh penting dalam pemrosesan suatu informasi?

Daftar Pustaka
http://novanikurniaty27.blogspot.co.id/2017/02/teori-pemrosesan-informasi-berbantuan.html
http://halizaagusriyaniputri.blogspot.co.id/2017/02/eori-pembelajaran-pemrosesan-informasi.html
http://santahasian97.blogspot.co.id/2017/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html

15 komentar:

  1. saya akan membantu menjawab permasalahan anda yang pertama yaitu :
    Informasi yang disimpan dalam ingatan jangka panjang diduga dapat bertahan dalam waktu yang panjang bahkan selamanya. Kehilangan ingatan pada ingatan jangka panjang ini hanya dimungkinkan apabila seseorang mengalami kerusakan fungsional dari sistem ingatannya.
    Proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang.


    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua. Ya, stimulus sangat penting dalam pemrosesan informasi. Antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau pun isinya. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas terbatas.

    BalasHapus
  3. Saya akan menjawab pertanyaan anda no 2 :
    Dimana stimulus itu sangat penting dalam langkah awal pemrosesan dalam belajar.
    Stimuli atau stimulus merupakan bentuk fisik, visual atau komunikasi verbal yang dapat mempengaruhi individu. Stimuli terdiri dari 2 bentuk yaitu:

    Stimuli Pemasaran : setiap komunikasi atau stimuli fisik yang didesain untuk mempengaruhi konsumen. Produk dan komponen-komponennya (seperti kemasan, isi, cirri-ciri fisik) adalah stimuli utama. Komunikasi yang didesain untuk mempengaruhi konsumen adalah stimuli tambahan yang merepresentasikan produk seperti kata-kata, gambar, dan symbol atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk seperti harga, took tempat produk jual, dan pengaruh akses.
    Stimuli Lingkungan : stimuli fisik yang didesain untuk mempengaruhi keadaan lingkungan.
    Proses Persepsi.

    Persepsi timbul karena adanya stimulus (rangsangan) dari luar yang akan mempengaruhi seseorang melalui kelima alat inderanya yaitu penglihatan, pendengaran, pembauan, perasaan dan sentuhan. Stimulus tersebut akan diseleksi, diorganisir dan diinterprestasikan oleh setiap orang dengan caranya masing-masing.

    BalasHapus
  4. saya akan mencoba menjawab permasalahan yang pertama,
    Suatu proses memori atau ingatan yang bersifat permanen, artinya informasi yang disimpan sanggup bertahan dalam waktu yang sangat panjang. Kapasitas yang dimiliki ingatan jangka panjang ini tidak terbatas. Memori jangka panjang adalah gundangnya informasi yang dimiliki oleh manusia. Ingatan jangka panjang berisi informasi dalam kondisi psikologis masa lampau, yaitu semua informasi yang telah disimpan, tetapi saat ini tidak sedang dipikirkan.
    Informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang diduga dapat bertahan dalam waktu yang panjang bahkan selamanya. Kehilangan ingatan pada memori jangka panjang ini hanya dimungkinkan apabila seseorang mengalami kerusakan fungsional dari sistem ingatannya.
    Proses masuknya informasi ke dalam memori jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke memori jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam memori jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke memori jangka panjang.
    Sebelum masuk ke memori jangka panjang, informasi yang telah disaring pada memori jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Dalam proses ini arti dari informasi dianalisis lebih jauh lagi. Misalnya saat kita mendengar seseorang yang mengatakan, “Atun dihina oleh Nana sampai sakit hati”, maka kita tidak hanya mengerti arti masing-masing kata dalam kalimat tersebut, tetapi kita juga berusaha mengerti apa yang terjadi sebenarnya dari keseluruhan kalimat tersebut. Sebaliknya bila kita mendengar kata-kata lain yang unsurnya sama, seperti “Nana dihina Atun sampai sakit hati”, maka kita tahu bahwa yang terjadi sekarang berbeda dari yang pertama. Dalam kedua kalimat tersebut kalau kita mengingat arti dari kata-kata dalam keseluruhan kalimat itu, maka kita sedang melakukan semantic coding; tetapi kalau kita membayangkan reaksi dari Atun atau Nina dalam peristiwa itu, maka kita melakukan imagery coding.
    Jadi, memori jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen.

    BalasHapus
  5. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
    Cara agar materi yang lama tetap ingat tentu kita harus menyimpannya dimemori jangka panjang. Cara agar setiap materi atau informasi yang diperoleh itu masuk kedalam memori jangka panjang tentu kita harus rajin mengulang materi lama tersebut sehingga jika ada materi baru materi lama tidak dilupakan. Kemudian melatih otak kita agar setiap informasi yang didapat untuk segera diubah menjadi kode atau sandi yang mudah kita ingat.

    BalasHapus
  6. Sy akan mencoba mnjawab permaalahan no 2 menurut saya berpengaruh .. karena kita tau semua faktor bersangkutan dg memori

    BalasHapus
  7. Saya. Akan menjawab permasalahan no 2. Tentu sangat berpengaruh, karena tidak mungkin ada respon dari siswa nya jika tidak ada stimulus yqng baik dari gurunya

    BalasHapus
  8. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua. Ya, stimulus sangat penting dalam pemrosesan informasi. Antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau pun isinya. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas terbatas

    BalasHapus
  9. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
    Cara agar materi yang lama tetap ingat tentu kita harus menyimpannya dimemori jangka panjang. Cara agar setiap materi atau informasi yang diperoleh itu masuk kedalam memori jangka panjang tentu kita harus rajin mengulang materi lama tersebut sehingga jika ada materi baru materi lama tidak dilupakan.

    BalasHapus
  10. saya ingin menanggapi permaslaahan kedua dimana Apakah faktor stimulus berpengearuh penting dalam pemrosesan suatu informasi? maka jawban saya adalah iya. karena menurut saya dengan adanya stimulus yang tepat maka siswa tersebut juga dapat memberikan respon yang tepat sasaran pula. seperti guru ingin siswanya mampu membuat reaksi kimia dari suatu percobaan maka si guru harus memberikan stimulus seperti latihan-latihan atau percobaan kepada siswa tersebut sehingga siswa tersebut dapat memberikan respon berupa siswa tersebut mampu membuat reaksi kimia dari suatu percobaan yang diberikan oleh gurunya

    BalasHapus
  11. Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.

    BalasHapus
  12. Dari permasalahan nomor 2. Menurut saya sangat berpengaruh. Karna stimulus itulah yang nantinya akan menentukan respon dari siswa.

    BalasHapus
  13. Terimakasih materinya cukup membantu

    BalasHapus
  14. Permasalahan no 2. Sangat berpengaruh

    BalasHapus
  15. Antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
    Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau pun isinya.
    Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas terbatas.

    BalasHapus