Multimedia
Pembelajaran Revolusi Industri Dalam Era 4.0

Saat ini kita tengah memasuki era revolusi
industri 4.0 yaitu era dimana dunia industri digital telah menjadi suatu
paradigma dan acuan dalam tatanan kehidupan saat ini. Era revolusi industri 4.0
hadir bersamaan dengan
era disrupsi.
Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 atau era
disrupsi diperlukan literasi baru selain literasi lama. Literasi lama yang ada saat ini digunakan
sebagai modal utk berkiprah di kehidupan masyarakat.
Literasi lama mencakup kompetensi calistung.
Sedangkan literasi baru mencakup literasi data, literasi teknologi dan literasi
manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan
membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yg
diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja
mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil
maksimal. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi,
berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
Untuk
itu tugas dunia pendidikan saat ini melalui proses pembelajarannya bukan hanya
menekankan pada penguatan kompetensi literasi lama tetapi secara simultan
mengokohkan pada penguatan literasi baru yang menyatu dalam penguatan
kompetensi bidang keilmuan dan keahlian atau profesi.
Dengan demikian perlu adanya reorientasi baru
dalam penyelenggaraan pendidikan baik pada pendidikan dasar, menengah dan
tinggi. Agar dunia pendidikan tetap memiliki daya relevansi yang tinggi dalam era
revolusi industri 4.0 atau era disrupsi para pendidik (guru dan dosen) dalam
proses pembelajaran perlu mengintegrasi capaian pembelajaran tiga bidang secara
simultan dan terpadu yaitu capaian bidang literasi lama, literasi baru dan
literasi keilmuan. Bila tidak kemungkinan lulusannya akan mengalami ileterasi.
Perubahan
dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri
dunia keempat dimana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan
manusia. Segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya
komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited), karena dipengaruhi oleh
perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung
pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai
aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) serta pendidikan tinggi.
Menteri
Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir
mengatakan bahwa tantangan revolusi industri 4.0 harus direspon secara cepat
dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan di lingkungan Kementerian, Riset,
Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) agar mampu meningkatkan daya
saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global. Hal ini diungkapkan Menteri
Nasir dalam pembukaan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset,
Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018 yang digelar di Kampus
Universitas Sumatera Utara (USU), Medan(17/1).
“Kebijakan
strategis perlu dirumuskan dalam berbagai aspek mulai dari kelembagaan, bidang
studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan cyber university, risbang
hingga inovasi. Saya berharap dalam Rakernas ini dapat dihasilkan rekomendasi
pengembangan iptek dikti dalam menghadapi revolusi industri 4.0. ,” ujar
Menteri Nasir.
Menristekdikti
menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan
dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya
saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
1.
Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti
penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam
hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of
Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan
manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan
terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human
literacy.
2.
Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif
terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan
program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber
University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi
intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa.
3.
Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa
yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0.
Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur
pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas
pendidikan, riset, dan inovasi.
4.
Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan
ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri,
dan Masyarakat.
5.
Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas
industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.
Sri
Mulyani mengatakan bahwa Anggaran Pendidikan tahun 2018 adalah 444,13 Triliun
Rupiah, baik untuk alokasi pusat maupun alokasi daerah. Anggaran 20% dari total
APBN tersebut merupakan suatu pemihakan yang nyata bagi pendidikan dan riset Indonesia.
Anggaran tersebut dialokasikan bagi program-program prioritas pendidikan dan
penelitian antara lain Program Indonesia Pintar, Bidik Misi, Bantuan
Operasional Sekolah, Riset, dan program lainnya.
Terkait
‘disruptive technology’, Sri Mulyani mengatakan bahwa dunia pendidikan menjadi
garis depan di era digital. Perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan
perkembangan teknologi. Sri Mulyani mengatakan bahwa perguruan tinggi harus
mampu merespon kebutuhan masyarakat yang saat ini sudah banyak melakukan
kegiatan pembelajaran secara online, sehingga perguruan tinggi tidak
ditinggalkan atau harus tutup. “Dunia cepat berubah, kita harus mampu cepat
adaptif dengan tetap menjaga karakter Indonesia,” ujar Sri Mulyani.
Permasalahan:
1. Dapatkah revolusi industri era 4.0 ini mengatasi permasalahan yang dialami dunia pendidikan di Indonesia? Seberapa efektifkah?
2. Bagaimana cara mengatasi permasalahan seputar media sosial yang lebih digemari peserta didik ketimbang belajar?
Daftar Pustaka:

