Minggu, 06 Mei 2018

Multimedia Pembelajaran Revolusi Industri Dalam Era 4.0


Multimedia Pembelajaran Revolusi Industri Dalam Era 4.0
Gambar terkait
Saat ini kita tengah memasuki era revolusi industri 4.0 yaitu era dimana dunia industri digital telah menjadi suatu paradigma dan acuan dalam tatanan kehidupan saat ini. Era revolusi industri 4.0 hadir bersamaan dengan era disrupsi.
Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 atau era disrupsi diperlukan literasi baru selain literasi lama. Literasi lama yang ada saat ini digunakan sebagai modal utk berkiprah di kehidupan masyarakat.
Literasi lama mencakup kompetensi calistung. Sedangkan literasi baru mencakup literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Literasi data terkait dengan kemampuan membaca, menganalisis dan membuat konklusi berpikir berdasarkan data dan informasi (big data) yg diperoleh. Literasi teknologi terkait dengan kemampuan memahami cara kerja mesin. Aplikasi teknologi dan bekerja berbasis produk teknologi untuk mendapatkan hasil maksimal. Literasi manusia terkait dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
Untuk itu tugas dunia pendidikan saat ini melalui proses pembelajarannya bukan hanya menekankan pada penguatan kompetensi literasi lama tetapi secara simultan mengokohkan pada penguatan literasi baru yang menyatu dalam penguatan kompetensi bidang keilmuan dan keahlian atau profesi.
Dengan demikian perlu adanya reorientasi baru dalam  penyelenggaraan pendidikan baik pada pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Agar dunia pendidikan tetap memiliki daya relevansi yang tinggi dalam era revolusi industri 4.0 atau era disrupsi para pendidik (guru dan dosen) dalam proses pembelajaran perlu mengintegrasi capaian pembelajaran tiga bidang secara simultan dan terpadu yaitu capaian bidang literasi lama, literasi baru dan literasi keilmuan. Bila tidak kemungkinan lulusannya akan mengalami ileterasi.
Perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri dunia keempat dimana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Segala hal menjadi tanpa batas (borderless) dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited), karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta pendidikan tinggi.
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa tantangan revolusi industri 4.0 harus direspon secara cepat dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan di lingkungan Kementerian, Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) agar mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah persaingan global. Hal ini diungkapkan Menteri Nasir dalam pembukaan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018 yang digelar di Kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan(17/1).
“Kebijakan strategis perlu dirumuskan dalam berbagai aspek mulai dari kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan cyber university, risbang hingga inovasi. Saya berharap dalam Rakernas ini dapat dihasilkan rekomendasi pengembangan iptek dikti dalam menghadapi revolusi industri 4.0. ,” ujar Menteri Nasir.
Menristekdikti menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:
1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa.
3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat.
5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.
Sri Mulyani mengatakan bahwa Anggaran Pendidikan tahun 2018 adalah 444,13 Triliun Rupiah, baik untuk alokasi pusat maupun alokasi daerah. Anggaran 20% dari total APBN tersebut merupakan suatu pemihakan yang nyata bagi pendidikan dan riset Indonesia. Anggaran tersebut dialokasikan bagi program-program prioritas pendidikan dan penelitian antara lain Program Indonesia Pintar, Bidik Misi, Bantuan Operasional Sekolah, Riset, dan program lainnya.
Terkait ‘disruptive technology’, Sri Mulyani mengatakan bahwa dunia pendidikan menjadi garis depan di era digital. Perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Sri Mulyani mengatakan bahwa perguruan tinggi harus mampu merespon kebutuhan masyarakat yang saat ini sudah banyak melakukan kegiatan pembelajaran secara online, sehingga perguruan tinggi tidak ditinggalkan atau harus tutup. “Dunia cepat berubah, kita harus mampu cepat adaptif dengan tetap menjaga karakter Indonesia,” ujar Sri Mulyani.
Permasalahan:
1. Dapatkah revolusi industri era 4.0 ini mengatasi permasalahan yang dialami dunia pendidikan di Indonesia? Seberapa efektifkah?
2. Bagaimana cara mengatasi permasalahan seputar media sosial yang lebih digemari peserta didik ketimbang belajar?
Daftar Pustaka:



Sabtu, 05 Mei 2018

Presentasi E-Learning Kimia Hasil Pengembangan


Presentasi E-Learning Kimia Hasil Pengembangan

Telah dipaparkan pada postingan sebelumnya bahwa:
E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar.

Manfaat E-learning adalah:
           1. Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
        2.  Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
3. Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.

 Berikut ini adalah contoh dari e-learning kimia hasil pengembangan, dimana dalam hal ini guru memanfaatkan media sosial (WA) yang sering dikunjungi banyak orang dalam menjelaskan materi (dalam hal ini "kesetimbangan kimia"). Didalam grup itulah guru memberikan materi dan soal kepada siswa yang nantinya akan terjadi proses interaksi antara guru dan siswa. Berikut linknya:
https://www.youtube.com/watch?v=XZJu7YiPkas


 


Pertanyaan:
1. Menurut anda, apakah tujuan pembelajaran yang ingin saya capai bisa terwujud bila saya menggunakan e-learning ini?
2. Bagaimana cara seorang guru mengatasi anak yang kurang aktif meskipun telah menggunakan e-learning?

Sabtu, 28 April 2018

Presentasi Multimedia Pembelajaran Kimia Hasil Pengembangan

Presentasi Multimedia Pembelajaran Kimia Hasil Pengembangan


Beberapa orang beranggapan bahwa materi pembelajaran kimia itu sulit dan membosankan. untuk mengatasi hal itu, saya membuat suatu simulasi dalam menjelaskan materi pembelajaran kimia, dalam hal ini "Teori Asam-Basa" dengan harapan agar pelajaran kimia  menjadi suatu pelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami. Berikut linknya:

Permasalahan: 
1. Menurut anda, bagaimana efektivitas multimedia ini dalam pembelajaran kimia? 
2. Bagaimana cara agar multimedia seperti ini dapat diterapkan pada semua materi dalam pelajaran kimia? Mengingat ada beberapa kendala seperti kurangnya pengetahuan guru dalam memanfaatkan multimedia, sarana dan prasarana serta waktu yang dibutuhkan oleh guru.


Minggu, 15 April 2018

Pengembangan e-Learning dalam Pembelajaran Kimia

Pengembangan e-Learning dalam Pembelajaran Kimia
         Teknologi komputer sudah semakin berkembang dan semakin banyak diaplikasikan dalam dunia pendidikan terutama sebagai media pembelajaran. Dengan media komputer guru akan lebih mudah menyampaikan materi yang sulit dibayangkan siswa menjadi suatu konsep yang dapat pahami siswa. Program e-learning merupakan salah satu media yang menggunakan teknologi komputer yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Program e-Learning banyak dikembangkan dengan berbagai karakteristik dasar yakni memberikan layanan student self service, online learning, online assessment, collaborative learning, training resources management (Sukari, 2014). 
           Dalam proses belajar mengajar motivasi memiliki peranan yang penting terhadap pencapaian hasil belajar. Motivasi mempunyai peranan penting dalam belajar karena mendorong individu untuk melakukan kegiatan belajar sehingga terjdi perubahan perilaku untuk mencapai tujuan berupa hasil belajar yang tinggi. Seorang siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung untuk mencurahkan segala kemampuan dan potensinya untuk mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu berupa hasil belajar yang tinggi. Motivasi belajar merupakan suatu dorongan pada diri mahasiswa baik secara intrinsik maupun secara ekstrinsik yang dapat menimbulkan kegiatan untuk belajar lebih efektif (Sardiman, 2009). 
           Seorang dosen harus mampu menyampaikan materi pelajaran dan mampu mengembangkan topik pelajaran sehingga tercapainya hasil belajar mahasiswa yang optimum (Situmorang, dkk. 2006). Para guru harus belajar untuk menggunakan strategi dan model yang multidimensi untuk memecahkan tantangan pendidikan yang ada di masa depan (Lumadi dan Len, 2013). Selanjutnya Wijaya (1992) menjelaskan guru harus melibatkan siswa aktif dalam proses belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran sebagai alat bantu untuk mengoptimalkan tujuan pembelajaran. 
       Beberapa media pendidikan yang sering dipergunakan dalam proses belajar-mengajar diantaranya media cetak, elektronik, model, sketsa, peta dan diagram (Silalahi, 2006). Heinich, dkk (2005) menyatakan media komputer program e-learning dapat dirancang dan dimanfaatkan sehingga menjadikan pembelajaran yang mengedepankan masalah dan melatih kemampuan siswa memecahkan masalah dan mencari solusinya. Kemudian menurut Mafenya (2013) e-learning efektif dan dapat meningkatkan pendidikan dimana e-learning tersebut dirancang dengan baik dan proses pembelajaran berpusat pada peserta didik. Penggunaan media pembelajaran tidak dapat diaplikasikan tanpa adanya strategi pembelajaran, sehingga perlu kombinasi antara strategi pembelajaran yang sesuai dengan media pembelajaran (Yusri dan Ratna, 2008). Mafenya, (2013) menyatakan e-learning berhasil disampaikan dalam konteks dirancang dengan baik dan harus menggunakan strategi pembelajaran.
           Sanjaya, (2009) menyatakan pembelajaran berbasis masalah menjadikan pembelajaran sebagai suatu masalah, kemudian masalah tersebut dapat membangkitkan ketertarikan atau rasa ingin tahu siswa untuk aktif memecahkan masalah dengan strategi yang diciptakan oleh siswa sendiri dengan cara mengkaitkan pengetahuan sebelumnya sehingga tersusun pengetahuan baru.
1. Pengertian E-Learning
E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Berikut beberapa pengertian E-learning dari berbagai sumber:

1.      Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Michael, 2013:27). 
2.      Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010).
3.      Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).
2. Karakteristik E-learning
Menurut Rosenberg (2001) karakteristik E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi.

Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah:

1.      Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
2.      Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan komputer networks)
3.      Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.
4.      Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
3. Manfaat E-learning
Manfaat E-learning adalah:

1.      Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
2.      Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
3.      Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.


Manfaat E-learning menurut Pranoto, dkk (2009:309) adalah:
1.      Penggunaan E-learning untuk menunjang pelaksanaan  proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa atas materi yang diajarkan.
2.      Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
3.      Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
4.      Meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa.
5.      Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan.
6.      Meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan perangkat biasa sulit dilakukan.
4. Kelebihan E-learning
Kelebihan E-learning  ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan, visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 : 253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu :

1.      Lebih mudah diserap, artinya menggunakan fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara, video. 
2.      Jauh lebih efektif dalam biaya, artinya tidak perlu instruktur, tidak perlu minimum audiensi, bisa dimana saja, bisa kapan saja, murah untuk diperbanyak.
3.      Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas, langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.
4.      Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.
5. Kekurangan E-learning
Kekurangan E-learning menurut L. Gavrilova (2006:354) adalah pembelajaran dengan model E-learning membutuhkan peralatan tambahan yang lebih (seperti komputer, monitor, keyboard, dsb). Kekurangan E-learning yang diuraikan oleh Nursalam (2008:140) sebagai berikut :

1 1. Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri.
2 2.  Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
3 3.  Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan. 
4 4.  Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (information, communication, dan technology).
5 5.  Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).
6 6.  Kurangnya sumber daya manusia yang menguasai internet.
7 7.  Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
8 8.   Akses pada komputer yang memadai dapat menjadi masalah tersendiri bagi peserta didik. 
9 9.   Peserta didik bisa frustasi jika mereka tidak bisa mengakses grafik, gambar, dan video karena peralatan yang tidak memadai.
1 10. Tersedianya infrastruktur yang bisa dipenuhi.
1 11.  Informasi dapat bervariasi dalam kualitas dan akurasi sehingga penduan dan fitur pertanyaan diperlukan.
1 12.  Peserta didik dapat merasa terisolasi.

Hasil Belajar 
Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni “hasil” dan “belajar”, mempunyai arti yang berbeda. Hasil adalah suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual atau kelompok. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan hasil adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan dan sebagainya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999). 
Selanjutnya pengertian belajar, untuk memahami pengertian tentang belajar berikut dikemukakan beberapa pengertian belajar diantaranya : Menurut Slameto (2003), dalam bukunya Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya bahwa belajar ialah “Suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi denganlingkungannya. Faktor penting keberhasilan pengembangan dan implementasi hasil belajar adalah akreditas program, kualitas kurikulum dan sumber daya yang terlibat (Hubball, 2007). Selanjutnya Ladyshewsky, et al (1998) menyatakan tiga jenis penguatan yang memengaruhi hasil belajar: (1) penguatan eksternal langsung, (2) penguatan yang dialami sendiri, dan (3) penguatan internal. Penguatan eksternal langsung, orang mengatur perilaku mereka atas dasar konsekuensi yang mereka alami secara langsung. Penguatan yang merupakan hasil pengamatan dari pengalaman orang lain. Penguatan yang dialami sendiri melibatkan perilaku seseorang. 
Motivasi 
Belajar Ada banyak faktor, baik intrinsik dan ekstrinsik yang memotivasi peserta didik. Faktor-faktor yang dapat berbeda secara signifikan dari siswa ke siswa. Meskipun demikian guru yang termotivasi dan antusias tentang apa yang dia lakukan, maka ada kemungkinan yang lebih besar siswa akan termotivasi juga. Pengaruh guru yang bersemangat dalam pembelajaran, menciptakan koneksi yang relevan dengan peserta didik, menyajikan tantangan yang harus diatasi peserta didik, dan membuat proses-mengajar menjadi menyenangkan (Wedel, 2006). Peserta didik lebih cenderung tertarik, semangat, penasaran, dan senang belajar ketika seorang guru sangat antusias. Peserta didik secara intrinsik termotivasi untuk belajar ketika diajarkan oleh guru yang antusias. Antusiasme guru tidak bisa menjadi sumber utama agar peserta didik termotivasi, tetapi merupakan cara terbaik untuk merangsang kegembiraan, dan rasa ingin tahu peserta didik (Patrick et al, 2000). Selanjutnya Winkel (1986), mengemukakan motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif, motif menjadi aktif pada saat tertentu, bahkan kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau dihayati. Sardiman (2009), menyatakan motivasi sebagai suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan, maka dalam motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu: 
1. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam system “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia. 
2. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa “feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. 
3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi yakni tujuan. Dengan demikian yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. 
Media Komputer Program eXe learning 
Teknologi komputer sebagai media informasi merupakan media yang efektif bagi seorang dalam merancang media pembelajaran sehingga dapat meringankan tugas guru. Dengan media komputer guru akan lebih mudah menyampaikan materi yang sulit dibayangkan siswa menjadi suatu konsep yang dapat pahami siswa. Media komputer program e-learning banyak dikembangkan dengan berbagai karakteristik dasar: 
(1) Memberikan layanan student self service, artinya seluruh peserta didik dalam pembelajaran berbasis TIK ini dapat melayani diri mereka sendiri ketika ingin menjalani aktivitas belajar. Struktur kurikulum dan bahan ajar dapat diakses secara mandiri tanpa campur tangan dari pikah lain, 
(2) memberikan layanan online learning, artinya seluruh bahan ajar yang disiapkan oleh pendidik dapat diakses oleh peserta didik secara online melalui jalur internet maoun intranet. Bahan ajar disajikan dalam bentuk course (kursus) yang telah dipaketkan sesuai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, 
(3) memberikan layanan online assessment, artinya peserta didik yang telah melakukan pembelajaran secara online dapat mengetahui apakah dirinya telah menguasai materi pembelajaran dengan cara mengikut layanan assesment secara online, 
(4) memberikan layanan collaborative learning, artinya aplikasi ini menyediakan layanan kolaborasi pembelajaran antara pendidik dengan pendidik, pendidik dengan peserta didik, maupun antara peserta didik, 
(5) menyediakan layanan training resources management, artinya aplikasi ini menyediakan layanan pengelolaan sumber daya pelatihan secara terkomputerisasi. 

Dari karateristik dasar tersebut dapat dikembangkan fitur-fitur aplikasi sebagai berikut: 
(1) Sharing material. Konten pembelajaran yang dikembangkan pendidik dapat dengan mudah sampai ke tangan pendidik lain dan peserta didik, 
(2) forum dan chat. Fitur komunikasi anatara pendidik dengan peserta didik maupun antar peserta didik. Sifat komunikasi pada forum tidaklah interaktif, sedangkan chat bersifat interaktif, 
(3) recording grades. Fitur aplikasi yang mampu melacak dan mengelolah nilai peserta didik sesuai dengan konfigurasi yang dilakukan oleh pendidik (Sukari, 2014). 
Interaktif pembelajaran dengan menggunakan komputer mengikuti 3 unsur, yaitu: 
(1) Urutan-urutan instruksional yang dapat disesuaikan, 
(2) respon atau pekerjaan siswa, dan 
(3) umpan balik yang dapat disesuaikan (Arsyad, 2007). 
Pembelajaran menggunakan komputer seperti program eXe learning, materi dapat disajikan dalam bentuk tutorial dan disertai soal latihan pilihan ganda. Program eXe learning merupakan singkatan dari elearning XHTML editor, yaitu sebuah program yang digunakan untuk membuat bahan ajar berbasis Web yang dirancang untuk menyampaikan bahan ajar menjadi lebih mudah dan menarik. Pada program eXe learning, guru dapat membuat bahan ajar berbasis Web tanpa perlu mengetahui tentang HTML, bahkan lebih mudah dibandingkan Web editor seperti MsFrontpage. Dalam program eXe learning, guru hanya membuka halaman eXe learning, kemudian mengisi dengan teks, gambar, video selanjutnya secara otomatis terbentuk daftar isi yang link ke semua halaman (Purnomo,2007). 

6. Contoh e-learning dalam pembelajaran kimia
Bagaimana pembelajaran Kimia Polimer berbasis e-learning?
            Sesuai dengan pengertian awam, e-learning yang dimaksudkan di sini adalah suatu pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer (intranet/Internet) dengan dukungan teknologi Web sebagai media deliveri materi dan komunikasi. Sistem pembelajaran ini dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar tatap muka maupun digunakan sebagai bentuk pembelajaran mandiri. Secara garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
(1) hanya menggunakan media Web biasa, dan
(2) menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management system (LMS).
Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi dengan password (seperti model langganan majalah/jurnal). Komunikasi bisanya dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.   Pada cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola e-learning.
Software (sistem) LMS biasanya mempunyai fasili- 7 tas-fasilitas yang berfungsi untuk
(1) administrasi mahasiswa,
(2) penyajian materi,
(3) komunikasi,
(4) pencatatan (portofolio),
(5) evaluasi, bahkan
(6) pengembangan materi.

Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam sistem e-learning. Gambar 3 menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi dari Kojhani, 2004).

Sistem e-learning terdiri atas beberapa komponen, yakni:
(1) komputer server yang dilengkapi dengan server Web dan software LMS (learning management system) dan software pendukung lain,
(2) infrastruktur jaringan yang menghubungkan komputer klien ke server,
(3) komputer klien tempat mahasiswa dan dosen mengakses kelas online, dan
(4) bahan-bahan ajar yang disiapkan oleh dosen dan dimasukkan ke dalam kelas online.
Sesuai dengan model di atas, komponen-komponen yang diperlukan untuk membangun sistem e-learning meliputi:
(1) hardware server dengan spesifikasi yang memadai
(2) software untuk server: sistem operasi, server Web, dan server e-learning (LMS, learning management system), serta software-software pendukung lainnya (misalnya PHP, MySQL) (3) komputer klien dengan spesifikasi dan cacah yang memadai untuk akses ke sistem elearning secara online
(4) software-software untuk komputer klien: sistem operasi, browser Internet untuk mengakses server, software aplikasi dan authoring untuk mengembangkan materi pembelajaran oleh dosen dan mengerjakan tugas-tugas oleh mahasiswa
(5) infrastruktur jaringan LAN dan Internet yang diperlukan untuk mengakses sistem perkuliahan online.
 Melalui sistem e-learning mahasiswa dapat membaca materi kuliah, mencoba demonstrasi dan simulasi, membaca tugas-tugas dan mengirim jawabannya, Infrastruktur Software Server E-learning Bahan ajar Server Web Mahasiswa/Dosen Infrastruktur Hardware 8 berkomunikasi dengan sesama mahasiswa dan dosen. Setelah infrastruktur pendukung e-learning siap, langkah yang paling penting adalah melakukan persiapan dan melaksanakan kuliah online yang dipadukan dengan kuliah tatap muka. Di sini peran dosen sangatlah penting sebagai pengembang materi belajar dan fasilitator kegiatan pembelajaran. Sistem e-learning atau LMS hanyalah sebuah alat. Pemanfaatannya sangat tergantung pada dosen sebagai pengelola kelas. Dalam pengelolaan kelas secara online dosen harus menyiapkan bahan-bahan ajar yang akan disajikan secara online dan melakukan komunikasi secara online menggunakan fasilitas-fasilitas tersedia pada LMS. 

Permasalahan:
  • ·        Apakah e-learning bisa dimanfaatkan untuk semua materi pelajaran kimia?
  • ·        Seberapa efektif penggunaan e-learning pada pembelajaran kimia?
  • ·     Bagaimana cara mengatasi permasalahan seperti masih kurangnya pengetahuan guru dalam memanfaatkan komputer serta bagaimana cara meningkatkan kreatifitas seorang guru dalam memanfaatkan e-learning?


Daftar Pustaka
http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikelB222663265A80590716499B3118E7E43.pdf
http://halizaagusriyaniputri.blogspot.co.id/2017/02/pengertian-e-learning-e-learning-adalah.html
https://anzdoc.com/penerapan-spbm-yang-diintegrasikan-dengan-program-exe-learning-terhadap-motivasi-hasil-belajar-mahasiswa-pada-mata-kuliah-kimia-dasar

Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media

Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media
    A. Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.

Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses penyeleksian, pengorganisasian, serta pengintegrasian elemen-elemen informasi
tersebut disajikan oleh Gambar 1.

Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yangberbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi. Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitifmenyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan .
Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.

Menurut Robert S. Siegler ada tiga karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :
   1.  Proses Berpikir (Thinking)
Menurut pendapat Siegler (2002), berpikir (thinking) adalah pemrosesan informasi. Dalam hal ini Siegler memberikan perspektif luas tentang apa itu penyandian (encoding), merepre-sentasikan, dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka sedang melakukan proses berpikir. Siegler percaya bahwa pikiran adalah sesuatu yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas, dan tujuan. Tetapi, ada batas kemampuan berpikir manusia ini. Individu hanya dapat memerhatikan sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses informasi juga terbatas.
    2.  Mekanisme Pengubah (Change Mechanism)
Siegler (2002) berpendapat  bahwa dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dan perkembangan. Dia percaya bahwa ada empat mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif anak: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan generalisasi.
a.        Encoding (penyandian)
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori . Seperti halnya teori Gagne yang menyatakan informasi dipilih secara selektif, maka dalam encoding menyandikan informasi yang relevan dengan mengabaikan informasi yang tidak relevan adalah aspek utama dalam problem solving. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk melatih encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis.

Ada enam konsep yang dikenal dalam encoding, yaitu :
1). Atensi
Atensi adalah mengonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam memerhatikan adalah seleksi. Atensi bersifat selektif karena sumber daya otak terbatas (Mangels, Piction, & Craik, 2001).
2).  Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) adalah repitisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada di dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid perlu menyandikan dan mengingat daftar item untuk periode waktu yang singkat.
3). Pemrosesan mendalam
Setelah diketahui bahwa pengulangan  (rehearsal) bukan cara yang efisien untuk menye-diakan informasi untuk memori jangka panjang (Fergus Craik dan Robert Lockhart 1972) menyatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level.
4)  Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan memori dalam penyandian. Jadi saat anda menyajikan konsep demokrasi kepada murid, mereka kemungkinan mengingatnya dengan lebih baik jika mereka diberi contoh lebih bagus dari demokrasi. Mencari contoh adalah cara yang bagus utuk mengelaborasi informasi. Misalnya, referensi diri (self-reference) adalah cara yang efektif untuk mngelaborasi informasi.
5). Mengkonstruksi citra (imaji)
Ketika kita mengkonstruksi citra dari sesuatu, kita sedang mengelaborasi informasi. Allan Paivio (1971, 1986) percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara: sebagai kode verbal atau sebagi kode citra/imaji. Paivio mengatakan bahwa semakin detail dan unik dari suatu kode citra, maka semakin baik memori anda dalam mengigat informasi itu. Para peneliti telah menemukan bahwa mengajak anak untuk menggunakan imaji guna mengingat informasi verbal adalah cara yang baik bagi anak yang lebih tua ketimbang anak yang lebih muda (Schneider & pressley, 1997).
6). Penataan
Apabila murid menata (mengorganisasikan) informasi ketika mereka menyediakanya, maka memori mereka akan banyak terbantu. Semakin tertata imformasi yang disampaikan, semakin mudah untuk mengingatnya. Ini terutama berlaku jika menata imformasi secara hirarkis atau menjelaskannya. Chunking (“pengemasan”) adalah strategi penataan memori yang baik, yakni dapat mengelompokan atau “mengepak” informasi menjadi unit-unit “higherorder” yang dapat diingat sebagai satu tunggal. Chunking dilakukan dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola dan lebih bermakna.
b.        Otomatisasi
Otomatisasi adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha. Peristiwa ini terjadi karena pertambahan usia dan pengalaman  individu sehingga otomatis dalam memproses informasi, yaitu cepat dalam mendeteksi kaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa yang baru dengan peristiwa yang sudah tersimpan pada memori dan akhirnya akan menemukan ide atau pengetahuan baru dari setiap kejadian.
c.         Konstruksi Strategi
Konstruksi strategi adalah penemuan prosedur baru untuk memproses informasi. Dalam hal ini Siegler menyatakan bahwa anak perlu menyandikan informasi kunci untuk suatu problem dan mengkoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relevan untuk memecahkan masalah. 
d.        Generalisasi
Untuk melengkapi mekanisme pengubah, maka manfaat dari langkah ketiga yaitu konstruksi strategi akan terlihat pada proses generalisasi, yaitu kemampuan anak dalam mengaplikasikan konstruksi strategi pada permasalahan lain. Pengaplikasian itu melalui proses transfer, yaitu suatu proses pada saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang baru.
   3.  Modifikasi Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan informasi secara mendalam tertuang dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau kognisi atau mengetahui tentang mengetahui, yang  di dalamnya terdapat dua hal yaitu pengetahuan kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan usaha monitoring dan refleksi pada pemikiran seseorang pada saat sekarang, sedangkan aktivitas kognitif terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan suatu tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri Deanna Kuhn mengatakan metakognisi harus lebih difokuskan pada usaha untuk membantu anak menjadi pemikir yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah. Baginya ketrampilan kognitif   terbagi dua, yaitu mengutamakan kemampuan murid untuk mengenali dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui pengetahuannya sendiri. 
Michael Pressly  dan rekan - rekannya seperti  yang  telah dikutip Santrock, mereka telah mengembangkan model metakognitf yang disebut model pemrosesan informasi yang baik. Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari sejumlah faktor yang saling berinteraksi.

Komponen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.   Sensory receptor
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap berada dalam  sistem, informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.   Working memory
Pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa:
1) Ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal.
2) Informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
3.   Long term memory
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan.
             
     B. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Gagne membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c.  Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d.  Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e.  Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f.   Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g.  Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h.  Mengevaluasi hasil belajar
i.   Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan  pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut:
a. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan dikenal sebagai informasi.
b. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
c.  Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.


C. Manfaat teori pemrosesan informasi
1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2. Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.  Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.  Prinsip perbedaan individual terlayani.

D. Hambatan teori pemrosesan informasi
1.  Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.  Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.  Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan   dalam ingatan
4.  Kemampuan otak tiap individu tidak sama.

E. Penyebab Lupa Yang Terjadi Pada Proses Teori Interferensi Dan Teori Aus

Informasi dalam memori jangka pendek akan hilang dengan cepat kecuali dijaga dengan pemanggilan kembali informasi tersebut. Peterson dan Peterson (1959) dari Universitas Indiana membuktikan tingkat kecepatan lupa dari STM. Mereke mengetes kemampuan mahasiswa dalam mengingat tiga konsonan dalam jangka angka, mulai dari sebuah angka yang jatuh setelah konsonan. Teori-teori yang menyebabkan lupa, yaitu:

1.   Teori Interferensi (Interference theory)menyatakan bahwa mengingat hal-hal lain atau melakukan tugas lain dapat mengganggu proses mengingat dan menyebabkan lupa.

2.   Teori Aus (decay theory) menyatakan bahwa lupa akan tetap terjadi meskipun subjek tidak diminta untuk melakukan hal-hal lain selama jangka waktu mengingat jika subjek tidak melatih informasi tersebut.Teori aus memprediksi bahwa performa subjek akan lebih baik pada penyajian dengan kecepatan tinggi karena lebih sedikit waktu bagi informasi untuk aus dari memori.

Penemuan Waugh dan Norman men-dukung pendapat bahwa interferensi penyebab utama lupa, bukan factor aus. Penemuan bahwa interferensi merupakan penyebab utama dari proses melupakan kabar baik. Jika informasi secara spontan aus dari memori, maka kita akan mampu mencegah hilangnya informasi tersebut. Jika informasi hilang dikarenakan oleh inter-ferensi, kita dapat meningkatkan ingatan dengan menstrukturisasi pembelajaran agar dapat meminimalisasi interferensi. Selain itu para psikolog sudah membedakan antara dua jenis interferensi, yaitu:

a. interferensi retroaktif (retroactive inter-ference) disebabkan oleh informasi yang terjadi setelah sebuah kejadian. Penelitian Waugh dan Norman (1965) mendemons-trasikan pengaruh interferensi retroatif, yaitu jumlah angka yang mengikuti angka pemeriksaan mempengaruhi sejauh mana angka tersebut dapat diingat dengan baik.

b.   interferensi proaktif (proactive inter-ference)disebabkan oleh kejadian-kejadian yang terjadi sebelum peristiwa di mana seseorang berusaha untuk mengingat kembali. Keppel dan Under-wood (1962) sebelumnya telah mendemonstrasikan pengaruh interferensi proaktif dalam tugas STM dari Peterson dan Peterson.

Berkurangnya interferensi disebut sebagai lepas dari interferensi proaktif (from proactive interference) (D.D. Wickens, Born, &Allen, 1963). Penelitian yang dilakukan oleh Wickens dan koleganya merupakan yang pertama dari banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mengingat kembali item berikutnya dapat ditingkatkan dengan membuatnya berbeda dengan item sebelumya. Lepas dari interferensi proaktif juga terjadi ketika orang diminta untuk mengingat kejadian yang lebih kompleks (Gunter, Clifford, & Berry, 1980). Salah satu cara terbaik untuk mengingat materi sepanjang hidup kita adalah dengan meluangkan waktu untuk mempelajarinya (Bahrick&Hall, 1991).

Engle dan Oransky (1999) menyatakan perbedaan individu dalam mengukur kapasitas memori kerja mencerminkan perbedaan dalam perhatian terkontrol dan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut akan dicerminkan hanya dalam situasi yang mendorong maupun menuntun perhatian terkontrol. Meskipun sulit bagi kita untuk membayangkan perjuangan seseorang yang mengalami kerusakan memori, kita semua iri pada seseorang yang memiliki memori eksternal yang sangat bagus dan berharap kita dapat meningkatkan memori kita sendiri. Bagi siswa, harapan ini terutama ditujukan saat mereka menghadapi ujian. Jika saja kita dapat mengingat segala sesuatu yang telah dipelajari, kita dapat melakukannya dengan jauh lebih baik. Kebutuhan untuk mengingat materi setelah
ujian kelihatannya kurang mendesak, namun bahkan dalam kasus ini, memori yang bagus tetap dapat menguntungkan.

Permasalahan:
1. Bagaimana suatu informasi dapat menjadi ingatan jangka panjang? Lalu apa yang harus dilakukan  agar setiap informasi yang diterima dapat menjadi ingatan jangka panjang?
2. Apakah faktor stimulus berpengearuh penting dalam pemrosesan suatu informasi?

Daftar Pustaka
http://novanikurniaty27.blogspot.co.id/2017/02/teori-pemrosesan-informasi-berbantuan.html
http://halizaagusriyaniputri.blogspot.co.id/2017/02/eori-pembelajaran-pemrosesan-informasi.html
http://santahasian97.blogspot.co.id/2017/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html